Mesir Melatih Ratusan Polisi Untuk Jadi Pasukan Keamanan Gaza. Di tengah ketegangan yang masih membara di Timur Tengah, Mesir muncul sebagai aktor kunci dengan inisiatif pelatihan keamanan untuk Gaza. Pada akhir November 2025, pemerintah Mesir mengonfirmasi bahwa ratusan polisi Palestina sedang menjalani program pelatihan intensif di Kairo, bertujuan membentuk pasukan keamanan pasca-perang yang stabil di wilayah tersebut. Langkah ini bagian dari rencana lebih besar untuk melatih hingga 5.000 personel, di mana setengahnya ditangani Mesir dan sisanya dari kekuatan polisi Gaza yang ada. Inisiatif ini, yang diumumkan Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty pada Agustus lalu, mendapat dukungan dari Otoritas Palestina (PA) di Tepi Barat. Dengan konflik Israel-Hamas yang telah menewaskan lebih dari 70.000 jiwa, pelatihan ini jadi sinyal harapan untuk stabilitas, meski tantangan politik dan keamanan masih menjulang tinggi. INFO CASINO
Latar Belakang Inisiatif Pelatihan: Mesir Melatih Ratusan Polisi Untuk Jadi Pasukan Keamanan Gaza
Rencana ini lahir dari pembicaraan Mesir dengan Perdana Menteri Palestina Mohammad Mustafa pada Agustus 2025, di mana Mesir komitmen latih 2.500 polisi baru untuk Gaza. Kelompok pertama, lebih dari 500 orang, sudah selesai pelatihan di Kairo sejak Maret, fokus pada keterampilan dasar seperti penjagaan perbatasan, pengendalian kerumunan, dan prosedur patroli. Peserta, semuanya asal Gaza, dibayar oleh PA yang berbasis di Ramallah. Seorang polisi berusia 26 tahun bilang, “Saya senang ikut pelatihan ini. Kami ingin akhir perang permanen dan siap layani rakyat kami.” Program ini juga tekankan loyalitas pada Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) sebagai perwakilan sah Palestina, sambil hindari afiliasi eksternal. Mesir, sebagai tetangga Gaza, khawatir kekosongan keamanan pasca-konflik bisa picu instabilitas lintas batas.
Tujuan dan Komponen Pelatihan: Mesir Melatih Ratusan Polisi Untuk Jadi Pasukan Keamanan Gaza
Pelatihan dirancang untuk bentuk pasukan keamanan yang netral, diawasi komite teknokrat disetujui gerakan Palestina. Fokus utama: demiliterisasi Gaza, lindungi warga sipil, dan amankan koridor kemanusiaan. Komponennya termasuk simulasi patroli bersama Israel dan Mesir, pelatihan anti-teror, dan manajemen bencana. Mesir tangani setengah kuota, sementara 5.000 lainnya dari polisi Gaza yang ada—yang sejak 2007 di bawah kendali Hamas. Presiden PA Mahmud Abbas perintahkan Menteri Dalam Negeri Ziad Hab al-Reeh koordinasi dengan Kairo. Tujuannya jelas: cegah kekacauan pasca-Hamas, tanpa bentrokan dengan kelompok bersenjata. Seorang pejabat keamanan PA bilang, “Pasukan ini independen, setia hanya pada Palestina.” Ini selaras rencana Liga Arab senilai 53 miliar dolar untuk rekonstruksi Gaza.
Tantangan dan Respons Stakeholder
Meski ambisius, program ini hadapi rintangan. Hamas, yang tolak serah kendali penuh, sebut inisiatif ini “ancaman terhadap kedaulatan Palestina.” Israel, yang tolak pasukan PA di Gaza, khawatir program ini tak cukup demiliterisir. Mesir, sebagai mediator gencatan senjata, tekan agar pasukan ini netral dari pengaruh eksternal. Pelatihan juga soroti peran PLO sebagai wakil sah, sambil lindungi mimpi negara Palestina berdaulat. Seorang peserta bilang, “Kami harap pasukan ini bebas aliansi luar.” Respons internasional campur: AS dukung via pusat koordinasi sipil-militer, tapi khawatir Hamas infiltrasi. Liga Arab adopsi rencana ini Maret lalu, dengan Mesir, Yordania, dan Qatar siap kontribusi.
Kesimpulan
Pelatihan ratusan polisi Palestina oleh Mesir jadi langkah konkret menuju stabilitas Gaza pasca-perang, dengan target 5.000 personel yang netral dan profesional. Di balik ambisi membangun keamanan mandiri, tantangan politik dari Hamas dan Israel tetap jadi batu sandungan. Meski begitu, inisiatif ini beri harapan: pasukan yang setia pada Palestina bisa cegah kekosongan kekuasaan dan dukung rekonstruksi. Dengan konflik yang telah rampas puluhan ribu nyawa, program seperti ini krusial untuk jalan damai. Mesir, sebagai tetangga strategis, tunjukkan komitmen—tapi suksesnya tergantung kerjasama regional. Gaza butuh bukan cuma pelatihan, tapi visi bersama untuk masa depan aman.