Dubes Antara AS-Iran Ribut di Dewan Keamanan PBB

Dubes Antara AS-Iran Ribut di Dewan Keamanan PBB

Dubes Antara AS-Iran Ribut di Dewan Keamanan PBB. Pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB baru-baru ini menjadi arena pertengkaran sengit antara duta besar Amerika Serikat dan wakil duta besar Iran, menyusul permintaan AS untuk membahas protes mematikan yang sedang berlangsung di Iran; Mike Waltz, duta besar AS, mengecam keras pemerintah Iran atas penindasan terhadap pengunjuk rasa dan menyatakan bahwa semua opsi ada di meja untuk menghentikan kekerasan, sementara Gholam Hossein Darzi, wakil duta besar Iran, balik menuduh AS melakukan campur tangan dan memprovokasi ketidakstabilan dengan dalih hak asasi manusia, pertengkaran ini terjadi pada Kamis, 15 Januari 2026, dan langsung menjadi sorotan internasional karena menambah panas ketegangan antara kedua negara yang sudah lama bermusuhan, terutama di tengah situasi regional yang sensitif seperti konflik di Timur Tengah. INFO GAME

Latar Belakang Pertemuan: Dubes Antara AS-Iran Ribut di Dewan Keamanan PBB

Pertemuan darurat ini digelar atas permintaan AS setelah berminggu-minggu ketegangan yang meningkat akibat protes nasional di Iran yang dipicu oleh isu ekonomi, hak perempuan, dan tuntutan kebebasan lebih besar; pengunjuk rasa di berbagai kota Iran menuntut perubahan mendasar, tapi respons pemerintah yang keras menyebabkan korban jiwa dan ribuan penangkapan, AS memanfaatkan forum PBB untuk menyoroti situasi ini dan mengundang dua disiden Iran untuk memberikan kesaksian langsung tentang pengalaman mereka sebagai target represi rezim, pertemuan ini bukan yang pertama kalinya AS dan Iran bentrok di Dewan Keamanan, tapi kali ini nada ancaman lebih terbuka dengan Waltz yang menyebut rezim Iran lebih lemah dari sebelumnya dan rakyat Iran sedang menuntut kebebasan seperti belum pernah terjadi sepanjang sejarah Republik Islam, situasi ini semakin rumit karena dukungan dari Rusia dan China yang mengecam sikap AS sebagai bentuk agresi dan campur tangan dalam urusan internal negara berdaulat.

Argumen Duta Besar AS: Dubes Antara AS-Iran Ribut di Dewan Keamanan PBB

Mike Waltz tidak segan-segan menyatakan bahwa Presiden AS adalah orang yang lebih suka bertindak daripada sekadar bicara, ia menekankan bahwa AS berdiri di sisi rakyat Iran yang berani dan siap merespons jika penindasan berlanjut, Waltz menuduh pemerintah Iran menyebabkan penderitaan ekonomi dan represi brutal yang membuat rakyatnya menderita, ia juga menyerukan agar Dewan Keamanan tidak tinggal diam menghadapi situasi yang berpotensi memicu eskalasi regional lebih luas, dalam pernyataannya Waltz menggambarkan protes sebagai momen bersejarah di mana rakyat Iran menuntut hak mereka dengan cara belum pernah terlihat sebelumnya, dan AS tidak akan membiarkan rezim mengabaikan suara itu, argumen ini didukung oleh kesaksian disiden seperti Masih Alinejad dan Ahmad Batebi yang menceritakan detail mengerikan tentang ancaman yang mereka hadapi, sehingga posisi AS terlihat sebagai pembela hak asasi manusia meski dikritik sebagai upaya destabilisasi politik.

Respons Wakil Duta Besar Iran

Gholam Hossein Darzi membalas dengan tuduhan bahwa AS menggunakan dalih kepedulian terhadap rakyat Iran untuk menyembunyikan agenda destabilisasi dan intervensi militer, ia menuduh Washington terlibat langsung dalam mengarahkan kerusuhan menjadi kekerasan dan memanfaatkan situasi untuk menggambarkan diri sebagai teman rakyat Iran padahal sebenarnya sedang merencanakan penggulingan rezim melalui narasi kemanusiaan palsu, Darzi menekankan bahwa protes di Iran adalah urusan internal dan AS tidak punya hak ikut campur, apalagi dengan sejarah panjang sanksi ekonomi yang justru memperburuk kondisi rakyat, ia juga menolak kesaksian disiden sebagai propaganda dan memperingatkan bahwa segala bentuk agresi akan dibalas sesuai Pasal 51 Piagam PBB, respons ini mendapat dukungan dari Rusia yang menyebut tindakan AS sebagai provokasi terang-terangan serta China yang menyerukan pengendalian diri untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.

Kesimpulan

Pertengkaran antara duta besar AS dan wakil duta besar Iran di Dewan Keamanan PBB ini mencerminkan ketegangan mendalam yang belum terselesaikan antara kedua negara, dengan AS yang semakin vokal mendukung pengunjuk rasa dan Iran yang tegas menolak campur tangan luar; meski pertemuan ini tidak menghasilkan resolusi konkret, ia berhasil menarik perhatian dunia pada situasi di Iran dan potensi dampak regionalnya, jika tidak ditangani dengan bijak situasi ini berisiko memicu konflik lebih besar terutama di tengah isu nuklir dan sanksi yang masih menggantung, kedua pihak perlu menahan diri agar forum internasional seperti PBB tetap menjadi tempat dialog daripada arena konfrontasi, dan pada akhirnya rakyat Iran lah yang paling berharap pada solusi damai yang menghormati hak mereka tanpa campur tangan asing yang mempersulit segalanya.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *