Drone Rudal Rusia Menghujani Ukraina. Konflik antara Rusia dan Ukraina kembali memanas dengan serangan drone dan rudal besar-besaran yang dilancarkan Rusia pada Juli hingga Agustus 2025. Serangan ini, yang menjadi salah satu yang terbesar sejak invasi Rusia pada Februari 2022, menargetkan kota-kota besar seperti Kyiv dan Odesa, menyebabkan kerusakan infrastruktur dan korban jiwa. Data dari angkatan udara Ukraina mencatat lebih dari 6.000 drone dan ratusan rudal diluncurkan Rusia sepanjang Juli 2025, menandai eskalasi signifikan. Warga Ukraina terpaksa berlindung di tempat penampungan setiap malam, sementara dunia menyaksikan ketegangan yang terus berlanjut meski ada upaya diplomasi. Apa yang mendorong serangan ini, bagaimana dampaknya, dan bagaimana respons Ukraina? Berikut ulasannya. BERITA LAINNYA
Kenapa Rusia Bisa Menyerang Ukraina
Serangan drone dan rudal Rusia merupakan bagian dari strategi militer mereka dalam konflik yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun. Rusia menggunakan drone Shahed buatan Iran, yang kini diproduksi lokal dengan nama Geran, untuk melemahkan infrastruktur vital Ukraina, seperti pembangkit listrik, pelabuhan, dan bangunan sipil. Tujuannya adalah mengganggu ekonomi Ukraina, menekan semangat juang warga, dan melemahkan kemampuan militer Kyiv. Rusia juga meningkatkan produksi drone di dalam negeri, dengan laporan menunjukkan fasilitas di Tatarstan mampu memproduksi ribuan unit setiap bulan. Teknologi drone yang terus berkembang, termasuk navigasi satelit canggih dan kecepatan yang lebih tinggi, memungkinkan Rusia melancarkan serangan malam yang sulit dilacak. Selain itu, eskalasi ini terjadi di tengah negosiasi perdamaian yang terhenti, dengan Rusia tetap mempertahankan tuntutan maksimal seperti aneksasi wilayah Ukraina dan demiliterisasi, yang ditolak mentah-mentah oleh Kyiv.
Apakah Ada Korban Yang Meninggal Usai Penyerangan Tersebut
Serangan drone dan rudal Rusia telah menyebabkan korban jiwa dan luka-luka yang signifikan. Pada Juli 2025, data dari pihak Ukraina mencatat lebih dari 230 warga sipil tewas dan sekitar 1.300 lainnya terluka akibat serangan ini, menjadikan bulan tersebut sebagai salah satu yang paling mematikan sejak awal perang. Salah satu serangan terbesar terjadi pada 8-9 Juli 2025, ketika Rusia meluncurkan 728 drone dan 13 rudal, menewaskan setidaknya delapan orang di wilayah Sumy, Donetsk, dan Kherson. Di Kyiv, sebuah serangan pada 31 Juli menewaskan 31 orang, termasuk lima anak-anak, setelah rudal menghantam gedung apartemen. Odesa juga terdampak parah, dengan serangan drone pada 19 Juli menewaskan satu orang dan melukai enam lainnya, termasuk seorang anak. Selain korban jiwa, kerusakan infrastruktur seperti rumah sakit bersalin, gedung universitas, dan fasilitas energi memperburuk kondisi warga, memaksa banyak dari mereka berlindung di stasiun metro setiap malam.
Apa Balasan Ukraina Usai Diserang Oleh Rusia
Ukraina tidak tinggal diam menghadapi gempuran Rusia. Angkatan bersenjata Ukraina telah meningkatkan serangan balasan menggunakan drone jarak jauh untuk menargetkan fasilitas militer dan infrastruktur strategis di dalam wilayah Rusia. Pada awal Agustus 2025, Ukraina melancarkan serangan drone ke pangkalan udara Saky di Krimea, menghancurkan satu jet tempur Sukhoi Su-30SM dan merusak beberapa lainnya. Serangan lain menargetkan kilang minyak di Volgograd dan pelabuhan Olya di Astrakhan, yang digunakan untuk mengangkut komponen drone dari Iran. Ukraina juga berhasil menembak jatuh sekitar 89% drone dan 61% rudal Rusia pada Juli 2025, menunjukkan kemampuan pertahanan udara yang signifikan meski terkendala sumber daya. Presiden Volodymyr Zelenskyy terus mendesak sekutu Barat untuk mempercepat pengiriman sistem pertahanan udara seperti Patriot, sambil meningkatkan produksi drone dalam negeri untuk melawan Rusia. Selain itu, Ukraina melaporkan keberhasilan dalam pertukaran tahanan, dengan lebih dari 1.000 tentara dibebaskan pada Juli 2025, menunjukkan upaya untuk menjaga semangat di tengah tekanan militer.
Kesimpulan: Drone Rudal Rusia Menghujani Ukraina
Serangan drone dan rudal Rusia yang menghujani Ukraina pada 2025 menandai eskalasi baru dalam konflik yang telah menghancurkan banyak nyawa dan infrastruktur. Didorong oleh strategi untuk melemahkan Ukraina secara ekonomi dan psikologis, Rusia memanfaatkan teknologi drone canggih untuk menekan Kyiv. Namun, dampak kemanusiaan yang tragis, dengan ratusan korban jiwa dan luka, menunjukkan harga mahal dari perang ini. Ukraina, dengan ketangguhan militernya, membalas dengan serangan drone jarak jauh dan memperkuat pertahanan udara, sembari terus mencari dukungan internasional. Situasi ini menggarisbawahi perlunya tekanan global yang lebih kuat untuk menghentikan agresi Rusia. Bagi warga Ukraina, perjuangan mereka adalah bukti ketahanan di tengah cobaan berat, dengan harapan perdamaian tetap menjadi tujuan utama.