Banjir Melanda Indramayu, Ribuan Warga Terdampak. Banjir melanda Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, sejak akhir pekan lalu, merendam ratusan rumah dan memaksa ratusan warga mengungsi. Hingga Kamis (29/1/2026), data terbaru menunjukkan ribuan jiwa terdampak, dengan genangan air masih bertahan di pusat kota dan beberapa kawasan permukiman akibat hujan deras berkepanjangan. REVIEW FILM
Pemicu Banjir dan Luas Dampak: Banjir Melanda Indramayu, Ribuan Warga Terdampak
Curah hujan ekstrem yang mengguyur sejak 26 Januari 2026 menjadi pemicu utama. Hujan lebat selama dua hari berturut-turut, ditambah luapan sungai dan sistem drainase yang belum optimal, membuat air meluap ke pemukiman. BPBD Indramayu mencatat total 913 rumah terendam, ditambah empat fasilitas umum seperti sekolah dan tempat ibadah. Secara keseluruhan, 2.724 jiwa terdampak di berbagai titik, terutama di Kecamatan Indramayu.
Wilayah paling parah meliputi Perumahan Ningrat 1 dan Citra Dharma Ayu (Cidayu) di Kelurahan Margadadi, serta Perumahan Bumi Dermayu Indah (BDI) 2 dan BDI 3 di Desa Tambak. Di sana, ketinggian air mencapai hingga hampir satu meter di beberapa titik, membuat akses jalan terputus dan kendaraan mogok. Banjir juga merembet ke ruas jalan protokol seperti Jalan Pahlawan, DI Panjaitan, dan Yos Sudarso, lumpuhkan lalu lintas dan memaksa warga beraktivitas dengan perahu karet atau berjalan kaki di genangan.
Pengungsi dan Penanganan Darurat: Banjir Melanda Indramayu, Ribuan Warga Terdampak
Sebanyak 206 warga, mayoritas dari Desa Tambak, terpaksa mengungsi ke tempat aman seperti masjid, balai desa, atau rumah kerabat. Evakuasi dilakukan secara mandiri maupun dibantu petugas gabungan dari BPBD, Polri, dan TNI. Beberapa kasus darurat tercatat, termasuk evakuasi warga lansia atau sakit yang terjebak di rumah karena air setinggi lutut hingga dada.
Pemkab Indramayu bergerak cepat: Bupati Lucky Hakim langsung meninjau lokasi, mendistribusikan sembako, dan memerintahkan penyedotan genangan menggunakan pompa air. Tim gabungan masih bersiaga 24 jam untuk memantau dan membantu warga. Normalisasi saluran drainase serta pembongkaran bangunan liar di sekitar sungai juga menjadi prioritas jangka pendek agar banjir tak berulang. BNPB memastikan penanganan maksimal, termasuk koordinasi dengan BMKG yang masih memprediksi potensi hujan lebat hingga 29 Januari 2026.
Dampak Lain dan Ancaman Berkelanjutan
Selain permukiman, banjir juga merendam areal persawahan di beberapa kecamatan, membuat persemaian padi mati dan mundurkan masa tanam hingga sebulan. Petani di sekitar 10 desa terdampak khawatir panen rendeng 2025/2026 terganggu. Di sisi lain, cuaca ekstrem ini terkait penguatan Monsun Asia dan bibit siklon di sekitar wilayah selatan, yang membuat hujan lebat disertai angin kencang masih berpotensi hingga akhir bulan. Warga diimbau tetap waspada, terutama di daerah rawan luapan sungai seperti Sungai Cimanuk dan Cipanas.
Kesimpulan
Banjir di Indramayu kali ini jadi pengingat betapa rentannya wilayah pantai utara Jawa terhadap cuaca ekstrem musim hujan. Dengan ribuan jiwa terdampak dan ratusan mengungsi, situasi ini menuntut respons cepat dari pemerintah daerah maupun pusat. Penanganan darurat sudah berjalan, tapi solusi jangka panjang seperti perbaikan drainase, normalisasi sungai, dan pengelolaan tata ruang jadi kunci agar kejadian serupa tak lagi jadi rutinitas tahunan. Semoga genangan segera surut dan warga bisa kembali ke aktivitas normal tanpa trauma berkepanjangan.