Banjir Karawang Belum Surut Pekan Ini. Banjir yang melanda sebagian besar Kabupaten Karawang sejak akhir Januari 2026 masih belum surut sepenuhnya hingga Sabtu 7 Februari 2026. Debit Sungai Citarum yang tinggi dan hujan lanjutan akibat sisa pengaruh ex-siklon PENHA membuat genangan air bertahan di 15 kecamatan. BPBD Karawang melaporkan sekitar 48.000 jiwa terdampak, dengan lebih dari 9.500 orang masih mengungsi di posko-posko darurat. Tinggi genangan bervariasi antara 50–180 cm di kawasan rendah, mengganggu akses jalan nasional, kawasan industri, dan aktivitas warga sehari-hari. REVIEW FILM
Wilayah Terdampak dan Tinggi Genangan: Banjir Karawang Belum Surut Pekan Ini
Genangan terparah masih terjadi di Kecamatan Karawang Timur, Karawang Barat, Klari, Telukjambe, Purwasari, dan Cilamaya Wetan. Beberapa titik kritis:
Desa Purwasari dan Klari: genangan 120–180 cm, merendam ratusan rumah dan sawah.
Kecamatan Karawang Timur: Jalan Raya Pantura terendam hingga 90 cm, lalu lintas macet total di segmen Klari–Karawang.
Kawasan industri Telukjambe dan Klari: beberapa pabrik masih terendam, produksi terhenti parsial.
Kecamatan Cilamaya Wetan dan Tirtajaya: banjir rob dari Sungai Citarum dan Sungai Cilamaya mencapai 80–150 cm.
Curah hujan kumulatif sejak 28 Januari mencapai 400–550 mm di hulu Citarum dan Bekasi, menyebabkan debit Sungai Citarum tetap tinggi dan meluap ke Karawang bagian utara. BMKG memprediksi hujan sedang-lebat masih mungkin terjadi hingga 10 Februari, sehingga genangan diperkirakan baru surut penuh pekan depan.
Dampak Ekonomi dan Sosial: Banjir Karawang Belum Surut Pekan Ini
Banjir terus mengganggu kawasan industri Karawang yang menjadi pusat manufaktur terbesar di Jawa Barat. Beberapa pabrik otomotif, tekstil, dan elektronik masih menghentikan operasional karena genangan di akses jalan dan gudang. Ribuan pekerja terdampak, baik karena sulit datang ke tempat kerja maupun karena produksi terhenti.
Dari sisi sosial, lebih dari 9.500 jiwa mengungsi di 45 posko. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok paling rentan; beberapa posko melaporkan kasus diare dan infeksi saluran pernapasan akibat air tercemar. Distribusi logistik berupa makanan siap saji, air bersih, selimut, dan obat-obatan terus dilakukan oleh BPBD, PMI, Tagana, dan relawan. Beberapa sekolah di kecamatan terdampak diliburkan hingga Senin 9 Februari.
Upaya Penanganan dan Rekomendasi
BPBD Karawang bersama Dinas PU, TNI-Polri, dan relawan mengoperasikan 50 unit pompa air dan 15 excavator untuk mempercepat penyedotan genangan. Normalisasi Sungai Citarum dan Sungai Cilamaya terus dilakukan, meski debit masih tinggi. Posko utama di Kecamatan Karawang Timur melayani ribuan pengungsi dengan dapur umum dan layanan kesehatan mobile.
BMKG dan BPBD mengimbau masyarakat:
Hindari melintasi genangan air yang dalam atau arus deras.
Waspada banjir susulan jika hujan lebat kembali terjadi.
Tidak memaksakan melintasi jalan yang terendam.
Pantau informasi resmi melalui aplikasi Info BMKG dan BPBD setempat.
Pemerintah Kabupaten Karawang menyatakan status tanggap darurat diperpanjang hingga 12 Februari dan meminta bantuan provinsi serta pusat untuk percepatan penyedotan dan perbaikan drainase.
Kesimpulan
Banjir di Karawang yang belum surut pekan ini menjadi dampak lanjutan dari hujan ekstrem yang dipicu ex-siklon PENHA. Meski debit sungai mulai menurun, genangan di kawasan rendah dan industri tetap tinggi, memengaruhi puluhan ribu jiwa dan aktivitas ekonomi. Upaya penanganan BPBD, TNI-Polri, dan relawan sudah berjalan intensif, namun pemulihan penuh diperkirakan butuh waktu satu pekan lagi. Masyarakat diimbau tetap waspada dan tidak memaksakan aktivitas di zona genangan. Semoga hujan segera reda dan warga bisa kembali ke rumah dengan aman. Banjir ini sekali lagi menegaskan perlunya normalisasi sungai dan drainase yang lebih baik di Karawang. Tetap sabar dan saling bantu sesama warga terdampak.