AS Tingkatkan Armada Dekat Iran. Amerika Serikat kembali memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah dengan mengerahkan tambahan kapal perang dan aset udara ke perairan dekat Iran pada akhir Januari 2026. USS Abraham Lincoln Carrier Strike Group, yang sudah berada di Teluk Oman sejak akhir 2025, kini didampingi USS Dwight D. Eisenhower Carrier Strike Group yang bergerak dari Laut Merah menuju Teluk Persia. Pentagon mengumumkan langkah ini sebagai “peningkatan postur defensif” untuk melindungi aset AS, sekutu, dan jalur perdagangan minyak global di tengah ketegangan yang meningkat dengan Iran. Keputusan ini langsung memicu respons keras dari Teheran yang menyebutnya sebagai “provokasi berbahaya” dan ancaman terhadap kedaulatan regional. REVIEW WISATA
Detail Pengerahan dan Aset yang Dikerahkan: AS Tingkatkan Armada Dekat Iran
Pengerahan kali ini melibatkan dua kelompok kapal induk sekaligus—sesuatu yang jarang dilakukan AS di kawasan tersebut sejak puncak ketegangan 2019–2020. USS Abraham Lincoln membawa sekitar 90 pesawat tempur (termasuk F/A-18 Super Hornet, EA-18G Growler, dan helikopter MH-60), didukung kapal penjelajah rudal USS Mobile Bay dan beberapa kapal perusak kelas Arleigh Burke. USS Dwight D. Eisenhower, yang sebelumnya bertugas di Laut Merah, membawa komposisi serupa dan kini bergerak ke Teluk Oman untuk bergabung. Selain itu, AS juga menambah kehadiran pesawat pengintai RC-135 Rivet Joint, drone MQ-9 Reaper, dan pesawat tanker KC-135 untuk mendukung operasi jangka panjang. Total aset udara dan laut AS di kawasan kini mencapai lebih dari 150 unit tempur aktif. Pentagon menyatakan pengerahan ini bersifat sementara dan bertujuan “menghalau ancaman potensial terhadap pelayaran komersial di Selat Hormuz serta melindungi sekutu di Teluk”.
Alasan Strategis Washington: AS Tingkatkan Armada Dekat Iran
Langkah ini diambil setelah Iran meningkatkan aktivitas militernya di Teluk Persia dan Laut Arab, termasuk uji coba rudal balistik jarak jauh dan latihan angkatan laut bersama Rusia serta China pada Desember 2025. AS juga menyoroti ancaman terhadap kapal dagang dan tanker minyak yang melewati Selat Hormuz—rute yang mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dunia. Beberapa insiden baru-baru ini, termasuk penahanan kapal kargo terkait Israel oleh pasukan IRGC, menjadi pemicu langsung. Pemerintahan Trump menyatakan bahwa pengerahan ini adalah bagian dari strategi “maximum pressure” untuk mencegah Iran mengganggu stabilitas energi global. Sekretaris Pertahanan AS menekankan bahwa AS tidak mencari konflik, tetapi siap merespons jika kepentingan nasional atau sekutu terancam.
Reaksi Iran dan Sekutu Regional
Iran langsung mengecam pengerahan tersebut sebagai “agresi militer terbuka”. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Nasser Kanaani menyebut langkah AS sebagai “upaya mengintimidasi dan mengganggu stabilitas kawasan”. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan siap “menghadapi setiap ancaman” dan menggelar latihan rudal serta drone di Teluk Persia sebagai respons. Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam pidato Jumat menyatakan bahwa “musuh tidak akan berani menyerang langsung, tapi kami siap membalas dengan kekuatan penuh”. Rusia dan China mendukung sikap Iran, menyebut pengerahan AS sebagai “provokasi yang tidak perlu”. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menyatakan dukungan diam-diam terhadap kehadiran AS sebagai penyeimbang kekuatan Iran, meski secara publik menyerukan de-eskalasi. Di sisi lain, Irak dan Qatar meminta semua pihak menahan diri agar tidak memicu konflik baru di kawasan.
Dampak Geopolitik dan Ekonomi
Pengerahan ini langsung memengaruhi pasar minyak global. Harga Brent melonjak 6% dalam 24 jam terakhir dan sempat menyentuh US$ 92 per barel karena kekhawatiran gangguan pasokan melalui Selat Hormuz. Saham perusahaan energi AS dan Eropa menguat, sementara indeks saham di Teluk Persia sedikit tertekan. Di kawasan, lalu lintas kapal tanker mulai melambat karena perusahaan pelayaran menunda perjalanan melalui Selat Hormuz. Secara geopolitik, langkah ini memperkuat posisi AS di Timur Tengah pasca-pelantikan Trump, tapi juga meningkatkan risiko kesalahan perhitungan yang bisa memicu konfrontasi langsung. Banyak analis memprediksi ketegangan akan terus berlanjut hingga AS dan Iran menemukan jalur diplomasi baru.
Kesimpulan
Pengerahan armada AS yang signifikan di dekat perairan Iran pada Januari 2026 menandai eskalasi baru dalam hubungan kedua negara. Meski Washington menekankan sifat defensif langkah ini, Teheran melihatnya sebagai ancaman langsung yang harus dibalas. Dampaknya sudah terasa di pasar minyak dan stabilitas regional, sementara dunia menahan napas menanti langkah selanjutnya dari kedua pihak. Ketegangan di Teluk Persia kembali mencapai titik kritis—satu kesalahan kecil bisa memicu konflik yang lebih luas. Semua mata tertuju pada Selat Hormuz dan keputusan strategis di Washington serta Teheran. Semoga diplomasi masih punya ruang sebelum semuanya terlambat.