ABAC 2026: RI Dorong Kerja Sama Investasi Hijau. Indonesia kembali menjadi tuan rumah Asia-Pacific Economic Cooperation Business Advisory Council (ABAC) 2026 di Jakarta pada 12–14 Februari 2026. Gelaran tahunan yang mempertemukan pimpinan bisnis terkemuka dari 21 ekonomi anggota APEC ini kali ini mengusung tema “Green Investment for Inclusive Growth”. Presiden Prabowo Subianto membuka sidang pleno di Hotel Mulia Senayan dengan menegaskan bahwa investasi hijau bukan lagi opsi, melainkan keharusan agar kawasan Asia-Pasifik tetap kompetitif di tengah transisi energi global. Delegasi Indonesia mendorong kerja sama konkret antarnegara, termasuk pembiayaan proyek energi terbarukan, teknologi rendah karbon, dan rantai pasok hijau yang inklusif. Jakarta dipilih sebagai tuan rumah setelah penundaan dua tahun, menandai kembalinya Indonesia sebagai pusat diskusi ekonomi strategis di kawasan. INFO DJ
Fokus Utama dan Usulan Indonesia: ABAC 2026: RI Dorong Kerja Sama Investasi Hijau
Sidang ABAC 2026 menyoroti tiga pilar utama investasi hijau. Pertama, akses pembiayaan yang terjangkau bagi negara berkembang. Indonesia mengusulkan pembentukan “APEC Green Investment Fund” senilai minimal USD 1 miliar yang dikelola bersama untuk mendanai proyek energi surya, angin, dan hidrogen hijau di negara-negara kepulauan dan daratan kecil. Usulan ini mendapat dukungan awal dari Australia, Jepang, dan Singapura. Kedua, standar dan sertifikasi bersama untuk rantai pasok hijau. Delegasi RI menekankan pentingnya sertifikasi karbon dan traceability yang seragam agar produk ekspor Indonesia (nikel, minyak sawit berkelanjutan, dan geothermal) tidak terkena hambatan tarif hijau di pasar Eropa dan AS. Ketiga, transfer teknologi dan kapasitas. Indonesia mempresentasikan program nasional “Green Talent 2030” yang mengintegrasikan pelatihan AI dan teknologi rendah karbon bagi tenaga kerja muda, serta mengajak perusahaan multinasional berbagi know-how tanpa biaya lisensi berlebihan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa Indonesia menargetkan investasi hijau mencapai USD 30 miliar per tahun hingga 2030. Ia juga menekankan bahwa transisi energi harus inklusif—tidak meninggalkan pekerja sektor fosil dan petani kecil yang bergantung pada komoditas tradisional. Diskusi panas terjadi seputar carbon border adjustment mechanism (CBAM) Uni Eropa yang mulai berlaku penuh tahun ini; Indonesia dan beberapa negara ASEAN mendorong pengecualian sementara bagi negara berkembang yang sedang membangun infrastruktur hijau.
Partisipasi Bisnis dan Komitmen: ABAC 2026: RI Dorong Kerja Sama Investasi Hijau
Delegasi bisnis Indonesia tampil aktif. Perusahaan seperti Pertamina, PLN, Adaro, dan GoTo mempresentasikan proyek-proyek hijau mereka, mulai dari hidrogen hijau hingga kendaraan listrik dan data center rendah karbon. Beberapa komitmen besar diumumkan: konsorsium Jepang-Australia menyatakan minat berinvestasi USD 2 miliar dalam proyek geothermal di Sulawesi dan Sumatera, sementara perusahaan Korea Selatan menandatangani MoU untuk membangun ekosistem baterai EV berbasis nikel Indonesia. China juga menyatakan kesiapan meningkatkan investasi di solar panel dan wind farm lepas pantai.
ABAC 2026 di Jakarta menghasilkan rekomendasi konkret untuk KTT APEC 2026 di Peru nanti, termasuk peta jalan investasi hijau regional dan kerangka kerja sama keamanan data untuk teknologi AI hijau. Acara ditutup dengan sesi networking malam hari yang dihadiri lebih dari 500 pelaku bisnis, menunjukkan antusiasme tinggi terhadap potensi kolaborasi di bidang energi bersih.
Kesimpulan
ABAC 2026 di Jakarta berhasil menempatkan investasi hijau sebagai prioritas utama kawasan Asia-Pasifik, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pemimpin transisi energi di negara berkembang. Usulan dana investasi bersama dan standar sertifikasi hijau yang inklusif mendapat sambutan positif dan menjadi modal penting menuju presidensi APEC 2027. Pesan Presiden Prabowo bahwa “pertumbuhan hijau harus menguntungkan semua lapisan masyarakat” menjadi benang merah yang kuat sepanjang sidang. Tantangan tetap ada—terutama regulasi data, biaya transisi, dan kesenjangan akses teknologi—tapi forum ini meninggalkan optimisme bahwa kolaborasi lintas negara bisa menghasilkan pertumbuhan yang lebih ramah lingkungan dan lebih adil. Bagi Indonesia, kesuksesan menjadi tuan rumah ABAC kali ini adalah langkah besar menuju posisi yang lebih strategis di peta ekonomi hijau global. Yang terpenting, semangat “green for all” harus benar-benar diwujudkan agar manfaat energi bersih tidak hanya dinikmati segelintir raksasa korporasi, melainkan juga petani, pelaku UMKM, dan generasi muda di seluruh kawasan.