ABAC 2026 Jakarta Usung AI sebagai Masa Depan. Asia-Pacific Economic Cooperation Business Advisory Council (ABAC) 2026 resmi dibuka di Jakarta pada Kamis (13 Februari 2026). Gelaran tahunan yang mempertemukan pimpinan bisnis terkemuka dari 21 ekonomi anggota APEC ini kali ini mengusung tema utama “AI for Inclusive Growth: Shaping the Future of Asia-Pacific”. Presiden Prabowo Subianto hadir langsung membuka sidang pleno di Hotel Mulia Senayan, dihadiri lebih dari 300 delegasi bisnis, menteri ekonomi, dan perwakilan sekretariat APEC. Dalam pidato pembukaannya, Prabowo menegaskan bahwa kecerdasan buatan (AI) bukan lagi pilihan, melainkan keharusan agar kawasan Asia-Pasifik tetap kompetitif di tengah persaingan global yang semakin ketat. Jakarta dipilih sebagai tuan rumah setelah penundaan dua tahun akibat pandemi dan pertimbangan geopolitik, menandai kembalinya Indonesia sebagai pusat diskusi ekonomi strategis di kawasan. BERITA TERKINI
Fokus Utama dan Isu Strategis: ABAC 2026 Jakarta Usung AI sebagai Masa Depan
Sidang ABAC 2026 menyoroti tiga pilar besar terkait AI. Pertama, inklusi dan aksesibilitas. Delegasi sepakat bahwa manfaat AI harus menjangkau UMKM, perempuan, dan komunitas pedesaan, bukan hanya perusahaan teknologi raksasa. Indonesia mempresentasikan program nasional “AI Desa” yang mengintegrasikan AI untuk prediksi panen, manajemen irigasi, dan pemasaran produk lokal. Kedua, tata kelola dan etika AI. Diskusi panas terjadi seputar regulasi data lintas batas, privasi, dan risiko bias algoritma. AS dan Jepang mendorong kerangka “AI governance” yang fleksibel, sementara China menekankan kedaulatan data nasional. Ketiga, investasi dan infrastruktur. ABAC merekomendasikan percepatan pembangunan pusat data regional dan jaringan 6G agar kawasan tidak tertinggal dari Amerika Utara dan Eropa.
Indonesia, sebagai tuan rumah, mengusulkan pembentukan “APEC AI Innovation Fund” senilai USD 500 juta untuk mendanai startup AI di negara berkembang. Usulan ini mendapat dukungan kuat dari Australia, Korea Selatan, dan Singapura. Sesi paralel juga membahas dampak AI terhadap tenaga kerja—dengan prediksi 30–40 persen pekerjaan di sektor manufaktur dan jasa akan berubah dalam satu dekade mendatang—serta perlunya upskilling massal.
Partisipasi Indonesia dan Harapan ke Depan: ABAC 2026 Jakarta Usung AI sebagai Masa Depan
Indonesia tampil sebagai salah satu aktor utama dalam forum ini. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa Indonesia menargetkan kontribusi ekonomi digital mencapai 20 persen dari PDB pada 2030, dengan AI sebagai penggerak utama. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi publik-swasta untuk membangun ekosistem AI yang inklusif. Beberapa perusahaan nasional seperti GoTo, Tokopedia, dan Telkom Indonesia turut berpartisipasi dalam sesi bisnis, mempresentasikan aplikasi AI di bidang logistik, kesehatan, dan pendidikan.
Delegasi dari China, Jepang, dan AS menyambut baik inisiatif Indonesia, meski ada catatan kritis soal regulasi data dan keamanan siber. ABAC 2026 di Jakarta juga menghasilkan rekomendasi konkret untuk KTT APEC 2026 di Peru nanti, termasuk peta jalan AI regional dan kerangka kerja sama keamanan data lintas batas. Acara ditutup dengan sesi networking malam hari yang dihadiri lebih dari 500 pelaku bisnis, menunjukkan antusiasme tinggi terhadap potensi kolaborasi di bidang AI.
Kesimpulan
ABAC 2026 di Jakarta berhasil menempatkan AI sebagai agenda prioritas kawasan Asia-Pasifik, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain aktif dalam tata kelola teknologi masa depan. Pesan Presiden Prabowo bahwa “AI harus menjadi alat pemberdayaan, bukan pemutus asa” mendapat sambutan luas dan menjadi benang merah diskusi selama tiga hari. Meski tantangan regulasi, etika, dan kesenjangan akses masih besar, forum ini meninggalkan optimisme bahwa kolaborasi lintas negara bisa menghasilkan pertumbuhan yang lebih inklusif. Bagi Indonesia, kesuksesan menjadi tuan rumah ABAC kali ini adalah modal penting menuju presidensi APEC 2027 mendatang. Yang terpenting, semangat “AI for all” harus benar-benar diwujudkan agar manfaat teknologi ini tidak hanya dinikmati segelintir raksasa digital, melainkan juga petani, pelaku UMKM, dan generasi muda di seluruh kawasan.