ABAC 2026 Dimulai di Jakarta, Dorong Investasi

ABAC 2026 Dimulai di Jakarta, Dorong Investasi

ABAC 2026 Dimulai di Jakarta, Dorong Investasi. Asia Business Advisory Council (ABAC) 2026 resmi dibuka di Jakarta pada 9 Februari 2026, menjadi agenda penting bagi para pemimpin bisnis dan pemerintah di kawasan Asia-Pasifik. Digelar selama tiga hari hingga 11 Februari di salah satu hotel utama ibu kota, pertemuan tahunan ini dihadiri delegasi dari 21 ekonomi anggota APEC, termasuk perwakilan tingkat tinggi dari Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan tentu saja Indonesia sebagai tuan rumah. Mengusung tema “Mendorong Investasi Berkelanjutan untuk Pertumbuhan Inklusif di Asia-Pasifik”, ABAC 2026 fokus pada upaya mempercepat aliran investasi lintas batas di tengah ketidakpastian global seperti perang dagang, disrupsi rantai pasok, dan transisi energi. Acara ini terasa sangat strategis bagi Indonesia, yang sedang gencar menarik investasi asing untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi 6-7 persen dan visi Indonesia Emas 2045. REVIEW FILM

Fokus Utama Pembahasan: ABAC 2026 Dimulai di Jakarta, Dorong Investasi

Pertemuan ABAC kali ini menyoroti tiga pilar besar: digitalisasi ekonomi, transisi energi hijau, dan penguatan UMKM dalam rantai nilai global. Dalam sesi plenary pertama, delegasi membahas bagaimana regulasi digital yang harmonis di kawasan APEC bisa mengurangi hambatan perdagangan elektronik dan mendorong investasi di sektor teknologi. Indonesia menonjolkan keberhasilan regulasi data center dan insentif pajak untuk perusahaan teknologi, sekaligus menawarkan peluang kolaborasi di IKN Nusantara sebagai hub digital masa depan.
Pembahasan transisi energi menjadi sorotan utama. Para pemimpin bisnis menekankan perlunya investasi besar dalam energi terbarukan, termasuk hidrogen hijau, baterai, dan jaringan listrik pintar. Indonesia mempresentasikan progres proyek geothermal, PLTS Cirata yang terbesar di Asia Tenggara, serta komitmen mencapai net zero emission 2060. Ada kesepakatan bahwa APEC perlu mekanisme pendanaan bersama untuk mengatasi kesenjangan investasi antara negara maju dan berkembang, sehingga transisi energi tidak meninggalkan anggota yang lebih kecil.
Sementara itu, isu UMKM mendapat perhatian khusus. Banyak delegasi sepakat bahwa UMKM adalah tulang punggung ekonomi kawasan, tapi masih kesulitan mengakses pasar global dan pembiayaan. Rekomendasi yang muncul termasuk penguatan platform e-commerce lintas negara, program capacity building, dan skema pembiayaan berbasis risiko yang lebih ramah bagi pelaku usaha kecil. Indonesia menawarkan model Kartu Prakerja dan program pendampingan UMKM digital sebagai contoh yang bisa direplikasi.

Peran Indonesia sebagai Tuan Rumah: ABAC 2026 Dimulai di Jakarta, Dorong Investasi

 

Sebagai tuan rumah, Indonesia memanfaatkan ABAC 2026 untuk mempromosikan berbagai peluang investasi langsung. Beberapa sektor yang paling banyak dibahas adalah hilirisasi nikel dan mineral kritis, pengembangan kendaraan listrik, serta infrastruktur konektivitas di kawasan timur. Wakil presiden dan beberapa menteri ekonomi hadir langsung dalam sesi pembukaan, menyampaikan komitmen pemerintah untuk menyederhanakan regulasi, mempercepat perizinan, dan menjamin kepastian hukum bagi investor.
Suasana di venue terasa optimis meski ada ketegangan geopolitik global. Banyak delegasi memuji keramahan dan efisiensi penyelenggaraan, serta kemampuan Indonesia menjembatani kepentingan berbagai pihak. Ada pula side event seperti business matching antara perusahaan Indonesia dengan mitra dari Jepang, Korea, dan Amerika Serikat, yang menghasilkan beberapa nota kesepahaman awal di bidang manufaktur dan teknologi hijau. Secara keseluruhan, ABAC 2026 di Jakarta terasa sebagai momentum bagi Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai destinasi investasi utama di Asia Tenggara.

 

Kesimpulan

ABAC 2026 di Jakarta berhasil menjadi panggung efektif untuk mendorong investasi berkelanjutan di kawasan Asia-Pasifik. Dengan fokus pada digitalisasi, energi hijau, dan pemberdayaan UMKM, pertemuan ini menghasilkan rekomendasi konkret yang diharapkan bisa diadopsi dalam KTT APEC mendatang. Bagi Indonesia, menjadi tuan rumah bukan hanya soal prestise, tapi kesempatan nyata menarik aliran modal yang dibutuhkan untuk percepatan pembangunan. Di tengah tantangan global yang kompleks, ABAC mengingatkan bahwa kerja sama regional tetap menjadi kunci pertumbuhan inklusif. Semoga rekomendasi dari Jakarta ini tidak hanya tertulis di dokumen, tapi benar-benar terwujud dalam bentuk investasi nyata, lapangan kerja baru, dan ekonomi yang lebih kuat bagi seluruh anggota APEC. Jakarta telah menyuarakan pesan jelas: Asia-Pasifik siap tumbuh bersama, dan investasi adalah jembatannya.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *