12 Warga Palestina Pulang Lewat Rafah

12 Warga Palestina Pulang Lewat Rafah

12 Warga Palestina Pulang Lewat Rafah. Momen haru terjadi di perbatasan Rafah pada malam Senin lalu. Dua belas warga Palestina akhirnya pulang ke Jalur Gaza setelah berbulan-bulan terpisah di Mesir. Mereka tiba dengan bus pertama yang memasuki wilayah itu dalam lebih dari 18 bulan. Ini menjadi tanda awal pembukaan kembali pintu utama Gaza, meski masih dengan pembatasan ketat. Bagi keluarga yang menunggu, kedatangan mereka membawa campuran rasa syukur dan kelegaan di tengah kondisi yang masih sulit. INFO PROPERTI

Latar Belakang Pembukaan Rafah: 12 Warga Palestina Pulang Lewat Rafah

Perbatasan Rafah selama ini menjadi satu-satunya jalur langsung Gaza ke luar negeri. Selama hampir dua tahun, akses ini tertutup rapat akibat konflik dan kendali keamanan. Pembukaan kembali pada 2 Februari 2026 merupakan bagian dari kesepakatan gencatan senjata tahap kedua. Tujuannya memberi ruang bagi pergerakan manusia, terutama pasien yang butuh perawatan dan warga yang ingin pulang.
Pada hari pertama, proses hanya untuk pejalan kaki. Tidak ada barang atau bantuan kemanusiaan yang lewat bebas. Pemeriksaan keamanan dilakukan secara ketat di beberapa titik, termasuk pos Israel di dalam wilayah Gaza. Janji awal menyebut 50 orang per arah setiap hari, tapi kenyataannya jauh lebih sedikit.

Detail Perjalanan Pulang 12 Warga: 12 Warga Palestina Pulang Lewat Rafah

Dari 42 orang yang mencoba pulang, hanya 12 yang lolos semua tahap pemeriksaan. Mereka naik bus yang melewati gerbang Rafah setelah berjam-jam menunggu. Kelompok ini mayoritas perempuan dan anak-anak. Beberapa di antaranya baru selesai menjalani perawatan medis di Mesir.
Perjalanan tidak mudah. Mereka harus menghadapi interogasi berulang, pemeriksaan barang, bahkan penyitaan beberapa barang pribadi. Bus akhirnya tiba di kompleks medis Nasser di Khan Younis pada malam hari. Di sana, keluarga menyambut dengan pelukan erat dan air mata. Bagi yang pulang, perjalanan terasa melelahkan, tapi rasa pulang ke rumah membuat semuanya terbayar.
Di arah sebaliknya, lima pasien beserta tujuh pendamping berhasil keluar menuju Mesir. Ini termasuk anak-anak yang mengalami luka serius, seperti kehilangan penglihatan akibat cedera perang. Mereka menjadi bagian kecil dari sekitar 20 ribu pasien yang masih menunggu giliran berobat di luar Gaza.

Reaksi dan Harapan di Tengah Keterbatasan

Kedatangan 12 warga ini disambut suka cita, tapi juga disertai kekecewaan. Banyak keluarga yang sudah menunggu lama akhirnya bisa bertemu lagi. Namun, angka ini jauh di bawah ekspektasi. Proses birokrasi dan pemeriksaan membuat banyak orang tertahan di sisi Mesir, bahkan harus menginap semalaman.
Di Gaza, ribuan orang masih antre untuk keluar berobat. Sekitar 4.500 di antaranya anak-anak yang membutuhkan penanganan mendesak. Pembukaan Rafah ini dilihat sebagai langkah awal, tapi masih jauh dari cukup. Warga yang pulang menceritakan perjalanan yang menguji kesabaran, tapi juga memperkuat tekad mereka untuk membangun kembali kehidupan di tengah puing-puing.

Kesimpulan

Kembalinya 12 warga Palestina melalui Rafah adalah langkah kecil yang membawa makna besar. Ini menunjukkan bahwa pintu harapan mulai terbuka lagi, meski masih sempit. Di tengah gencatan senjata yang rapuh, momen ini memberi secercah keyakinan bahwa pemulihan perlahan mungkin terjadi. Tantangan tetap besar, mulai dari pemenuhan janji kuota hingga pemulihan infrastruktur dan kesehatan warga. Hanya dengan komitmen nyata dari semua pihak, Rafah bisa menjadi jalan yang benar-benar membawa kedamaian dan kehidupan baru bagi masyarakat Gaza.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *