Angin Kencang 37–47 km/jam Melanda Jakarta. Angin kencang dengan kecepatan 37–47 km/jam melanda sebagian besar wilayah DKI Jakarta sejak pagi hingga sore hari 23 Januari 2026. BMKG mencatat hembusan tertinggi mencapai 48 km/jam di wilayah Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu, sementara di Jakarta Pusat dan Selatan kecepatan rata-rata 35–42 km/jam. Angin ini dipicu oleh konvergensi angin monsun baratan yang masih kuat akibat pengaruh bibit siklon tropis di selatan Jawa. Dampak langsung terasa: puluhan pohon tumbang, puluhan reklame dan baliho roboh, serta beberapa atap rumah terlepas. BPBD DKI melaporkan setidaknya 18 kejadian pohon tumbang dan 12 insiden baliho jatuh hingga pukul 17.00 WIB, tanpa korban jiwa tetapi menyebabkan kemacetan parah dan pemadaman listrik sementara di beberapa titik. MAKNA LAGU
Penyebab dan Pola Angin Kencang yang Melanda Jakarta: Angin Kencang 37–47 km/jam Melanda Jakarta
Angin kencang ini merupakan bagian dari pola cuaca ekstrem yang masih dipengaruhi bibit siklon tropis di Samudra Hindia selatan Jawa. Sistem tekanan rendah tersebut terus menarik massa udara basah dan menciptakan gradien tekanan yang tajam di wilayah Jabodetabek. Kecepatan angin rata-rata 30–40 km/jam di daratan, dengan hembusan maksimum 47–48 km/jam tercatat di Pluit, Ancol, dan Tanjung Priok. BMKG menyebut kondisi ini masih akan berlangsung hingga malam hari dengan kemungkinan hembusan sesekali mencapai 50 km/jam di pesisir utara. Angin kencang juga membawa hujan ringan hingga sedang di beberapa wilayah, sehingga risiko pohon tumbang dan baliho roboh tetap tinggi. Prakiraan hingga 25 Januari menunjukkan angin masih kencang (25–45 km/jam) dengan potensi hujan lebat di Jakarta Selatan dan Timur.
Dampak dan Kejadian Utama: Angin Kencang 37–47 km/jam Melanda Jakarta
Hingga sore hari, BPBD DKI mencatat 18 pohon tumbang yang menimpa jalan, kabel listrik, dan beberapa rumah warga. Di Jakarta Utara, pohon tumbang di Jl. Pluit Raya dan Jl. Lodan menutup satu lajur dan menyebabkan pemadaman listrik sementara di sekitar Kelapa Gading dan Pluit. Di Jakarta Pusat, baliho besar di Jl. Thamrin dan Jl. Sudirman roboh menimpa beberapa kendaraan, meski tidak ada korban jiwa. Jakarta Selatan melaporkan 7 kejadian pohon tumbang di Tebet dan Pancoran, sementara Jakarta Barat mencatat 4 kejadian di Grogol dan Palmerah. Total 12 baliho dan spanduk besar jatuh di berbagai titik, menyebabkan kemacetan parah di Jl. Gatot Subroto, Jl. S. Parman, dan Jl. D.I. Panjaitan. PLN melaporkan 14 gardu distribusi terganggu, sehingga sekitar 8.200 pelanggan mengalami pemadaman sementara. Petugas gabungan TNI-Polri, Satpol PP, dan Dishub bekerja membersihkan jalan dan mengevakuasi puing-puing.
Respons Pemerintah dan Prakiraan ke Depan
Gubernur DKI Jakarta memimpin rapat koordinasi darurat dan memerintahkan Dishub serta Satpol PP membersihkan pohon tumbang dan baliho roboh secepat mungkin. PLN berupaya memulihkan listrik di wilayah terdampak dengan target selesai malam hari. BMKG memperpanjang peringatan dini angin kencang hingga 25 Januari pagi dan meminta masyarakat menghindari area terbuka, pohon besar, dan baliho yang rentan roboh. Rekomendasi utama: pantau prakiraan cuaca setiap jam melalui aplikasi Info BMKG, hindari aktivitas di luar ruangan saat angin kencang, dan laporkan pohon miring atau baliho berbahaya ke 112 atau posko terdekat. Nelayan dan pengguna transportasi air diminta tunda aktivitas hingga angin mereda. Pemerintah pusat melalui BNPB siap kirim bantuan alat berat jika jumlah pohon tumbang semakin banyak.
Kesimpulan
Angin kencang 37–47 km/jam yang melanda Jakarta pada 23 Januari 2026 berhasil mengganggu aktivitas masyarakat dengan puluhan pohon tumbang, baliho roboh, dan pemadaman listrik sementara. Dampak terasa luas di Jakarta Utara, Pusat, dan Selatan, meski tidak ada korban jiwa. Respons cepat dari BPBD, Dishub, dan PLN membantu mengurangi kerugian, tetapi prakiraan angin kencang hingga 25 Januari menunjukkan risiko tetap tinggi. Warga Jakarta diminta tetap waspada, pantau informasi resmi, dan hindari area berisiko. Semoga angin segera mereda dan ibu kota kembali normal tanpa insiden tambahan. Cuaca ekstrem memang ujian, tapi kesiapsiagaan dan kerjasama bisa meminimalkan dampak. Tetap aman di rumah kalau tidak mendesak!