China Dikagetkan Oleh Serangan Israel Tewaskan 5 Jurnalis. Serangan Israel di Gaza kembali mencuri perhatian dunia, kali ini dengan insiden tragis yang menewaskan lima jurnalis di Rumah Sakit Nasser, Khan Younis, pada 25 Agustus 2025. Kejadian ini tidak hanya memicu kecaman global, tetapi juga mengejutkan China, yang secara terbuka menyatakan keterkejutannya atas serangan tersebut. Dengan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan jumlah korban jurnalis yang terus bertambah, insiden ini menyoroti bahaya yang dihadapi wartawan di zona konflik. Apa yang terjadi dalam serangan ini, siapa saja jurnalis yang menjadi korban, dan mengapa China bereaksi keras? Mari kita ulas lebih dalam. BERITA BOLA
Serangan Tersebut Ditembakan Kemana
Serangan terjadi di Rumah Sakit Nasser, fasilitas medis utama di Khan Younis, Gaza Selatan. Israel melancarkan dua serangan udara berturut-turut, yang dikenal sebagai taktik “double-tap”. Serangan pertama menghantam lantai atas rumah sakit, menewaskan beberapa orang, termasuk jurnalis Reuters, Hussam al-Masri, yang sedang mengoperasikan siaran langsung. Beberapa menit kemudian, serangan kedua menargetkan lokasi yang sama saat jurnalis lain dan tim penyelamat tiba untuk membantu korban. Serangan ini menewaskan total 20 orang, termasuk lima jurnalis, empat tenaga medis, dan beberapa warga sipil. Video langsung dari AlGhad TV menangkap momen mengerikan ketika serangan kedua terjadi, menunjukkan jurnalis dan petugas penyelamat berusaha melindungi diri sebelum ledakan menghantam. Rumah Sakit Nasser, yang sudah beroperasi di bawah tekanan ekstrem akibat perang, menjadi simbol risiko yang dihadapi pekerja media dan kemanusiaan di Gaza.
Siapakah 5 Jurnalis Yang Meninggal Tersebut
Kelima jurnalis yang tewas adalah profesional media yang bekerja untuk outlet ternama. Hussam al-Masri, seorang juru kamera Reuters, tewas dalam serangan pertama saat mengoperasikan siaran langsung. Mariam Abu Dagga, jurnalis lepas berusia 33 tahun yang bekerja untuk Associated Press dan beberapa outlet lain, juga menjadi korban. Mohammad Salama, juru kamera Al Jazeera, tewas bersama Moaz Abu Taha, jurnalis lepas yang sesekali berkontribusi untuk Reuters. Ahmed Abu Aziz, jurnalis yang berbasis di Rumah Sakit Nasser, melaporkan dampak serangan Israel di Gaza dan kehilangan rumahnya akibat serangan sebelumnya. Para jurnalis ini dikenal karena keberanian mereka melaporkan situasi di Gaza di tengah risiko kelaparan dan bombardir, dengan Abu Dagga bahkan menulis surat wasiat untuk anaknya, mengantisipasi bahaya yang dihadapinya.
Kenapa China Bisa Dikagetkan Karena Serangan Israel Ini
China menyatakan keterkejutannya atas serangan ini melalui pernyataan resmi di media sosial, menyebutnya sebagai tindakan yang mengerikan terhadap kebebasan pers. Ada beberapa alasan mengapa insiden ini begitu mengejutkan Beijing. Pertama, China memiliki hubungan diplomatik yang kompleks dengan Israel, sebagai mitra dagang besar namun juga pendukung kuat Palestina di forum internasional seperti PBB. Serangan terhadap jurnalis, yang dianggap sebagai pelanggaran hukum internasional, bertentangan dengan nilai kebebasan pers yang China proyeksikan dalam narasi globalnya. Kedua, insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, termasuk serangan Israel ke Iran pada Juni 2025, yang juga dikecam China. Beijing melihat serangan terhadap jurnalis sebagai bagian dari pola yang mengkhawatirkan, terutama karena lebih dari 190 jurnalis telah tewas di Gaza sejak Oktober 2023. Ketiga, China mungkin memandang insiden ini sebagai eskalasi yang dapat memperburuk situasi kemanusiaan di Gaza, yang bertentangan dengan seruan Beijing untuk gencatan senjata dan solusi dua negara. Kecaman China juga mencerminkan solidaritas dengan negara-negara lain yang mengecam serangan ini, seperti Qatar dan Turki.
Kesimpulan: China Dikagetkan Oleh Serangan Israel Tewaskan 5 Jurnalis
Serangan Israel di Rumah Sakit Nasser yang menewaskan lima jurnalis pada 25 Agustus 2025 telah memicu gelombang kecaman global, dengan China secara terbuka menyatakan keterkejutannya. Insiden ini, yang menewaskan Hussam al-Masri, Mariam Abu Dagga, Mohammad Salama, Moaz Abu Taha, dan Ahmed Abu Aziz, menyoroti bahaya ekstrem yang dihadapi jurnalis di Gaza. Blocking yang kuat, seperti yang dilakukan oleh para jurnalis ini dalam melaporkan kebenaran, adalah tulang punggung kebebasan pers, namun juga menempatkan mereka pada risiko besar. Keterkejutan China mencerminkan keprihatinan global atas pelanggaran hukum internasional dan eskalasi konflik di Gaza. Dengan lebih dari 190 jurnalis tewas sejak perang dimulai, dunia harus bertindak untuk melindungi pekerja media dan memastikan akuntabilitas. Akankah insiden ini mendorong langkah nyata menuju perdamaian di Gaza? Dengan solidaritas internasional yang kian kuat, harapan untuk keadilan dan perlindungan bagi jurnalis tetap hidup.